GROBOGAN.NEWS Semarang

Inilah Pesan Penting Panglima Santri Gayeng Nusantara di Hari Raya Idul Fitri 1442 H

Wakil Gubernur Jawa Tengah H. Taj Yasin Maimoen menjadi imam  salat Idul Fitri di Mushalla Baitul Musthofa yang berada di rumah dinasnya, di Jalan Rinjani Semarang, pada Kamis (13/05) lalu.

SEMARANG, GROBOGAN.NEWS– Wakil Gubernur Jawa Tengah H. Taj Yasin Maimoen menjadi imam  salat Idul Fitri di Mushalla Baitul Musthofa yang berada di rumah dinasnya, di Jalan Rinjani Semarang, pada Kamis (13/05) lalu.

Gus Yasin pun telah menyampaikan pesan penting kepada para jemaahnya.

“Semakin tinggi kualitas takwa seseorang, indikasi semakin tinggi pula kesuksesan berpuasa. Demikian juga sebaliknya, semakin hilang kualitas takwa dalam diri, pertanda semakin gagal sepanjang Ramadan,” kata Gus Yasin Maimoen.

Baca Juga :  Info Penting !! Kota Salatiga Zona Merah, Inilah Berbagai Aturan dan Kebijakan Terbaru yang Wajib Dipatuhi

Menjadi imam dalam salat Idul Fitri yang diikuti para staf wakil gubernur beserta keluarga tersebut, Wagub Taj Yasin menyampaikan tentang  kualitas takwa orang muslim.

“Jika standar pencapaian tertinggi puasa adalah takwa, maka tanda-tanda bahwa manusia sukses melewati Ramadan pun tak lepas dari ciri-ciri orang muttaqîn atau orang-orang yang bertakwa,” kata Taj Yasin.

Menurutnya, beberapa ayat Al-Qur’an menjelaskan ciri-ciri orang takwa. Diantaranya, orang-orang yang menafkahkan hartanya pada saat senang dan pada saat susah, serta orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang.

Baca Juga :  Gowes Hingga ke Kendal, Gubernur Ganjar Lakukan Monitoring Penanganan Covid-19

Dalam konteks Ramadhan dan Idul Fitri, kata dia, sifat takwa pertama sebenarnya sudah mulai didorong oleh Islam melalui ajaran zakat fitrah. Zakat fitrah merupakan simbol bahwa “rapor kelulusan” puasa harus ditandai dengan mengorbankan sebagian kekayaan dan menaruh kepedulian kepada mereka yang lemah.

Sedangkan ciri lainnya adalah mampu menahan amarah. Marah merupakan gejala manusiawi. Tapi orang-orang yang bertakwa tidak akan mengumbar marah begitu saja. Ibarat termos, orang bertakwa semestinya mampu menyembunyikan panas di dadanya sehingg orang-orang di sekitarnya tidak tahu bahwa ia sedang marah.

Baca Juga :  Tracer Ujung Tombak Penanganan Covid-19, Senkom Gelar Pelatihan di Semarang

Kemudian ciri ketiga orang bertakwa adalah memaafkan kesalahan orang lain. Karenanya, ulama-ulama di Tanah Air menciptakan tradisi bersilaturahim dan saling memaafkan di momen lebaran.

“Sempurnalah, ketika kita usai membersihkan diri dari kesalahan-kesalahan kepada Allah, selanjutnya kita saling memaafkan kesalahan masing-masing di antara manusia,” katanya. Arya