KUDUS, GROBOGAN.NEWS-Ketidaksiapan mental disinyalir menjadi penyebab tingginya angka perceraian di Kabupaten Kudus. Ketidaksiapan itu yang membuat akhirnya pasangan suami istri tidak bisa mengatasi berbagai masalah di rumah tangga, termasuk masalah ekonomi.

Terlebih di masa pandemi virus corona atau covid-19 telah menghantam segala lini kehidupan.

Data yang dihimpun menyebutkan, angka perceraian di Kudus hingga akhir November 2020 menyentuh 1.279 kasus. Jumlah tersebut tergolong sedang yakni  tidak terlampau tinggi jika dibandingkan dengan Kabupaten lain di eks-Karsidenan Pati. Angka ini bahkan terhitung lebih rendah dari angka perceraian di Kabupaten Jepara dan Pati yang mencapai sekitar 2.500 perkara pertahun.

Panitera Pengadilan Agama Kabupaten Kudus, Muhammad Muchlis menjelaskan jika sepanjang 2019 lalu jumlah kasus perceraian yang diajukan mencapai 1.300 kasus. Sedangkan hingga bulan November tahun 2020, jumlah kasus perceraian telah menyentuh angka 1.279 pengajuan perceraian.

“Hingga bulan November 2020, total kasus perceraian di Kabupaten Kudus telah mencapai 1.279 perkara,” ungkap dia, Kamis (3/12).

Dijelaskannya lebih detail, dari 1.279 pengajuan perceraian 30 perkara cerai gugat atau sekitar 72,7 persen. Semenatara cerai talak ada 349 perkara atau sekitar 27,3 persen.

Halaman:
‹‹   1   2   3   Baca Selanjutnya ›   ››   All