GROBOGAN.NEWS Solo

Tracing dengan Swab Antigen Digencarkan

BOYOLALI, GROBOGAN.NEWS-Dinkes Boyolali mengganti swab polymerase chain reaction (PCR) untuk tracing dan skrining dengan swab antigen.

Penggantian tes tersebut dilakukan karena adanya kendala antrean waktu dan tempat pemeriksaan laboratorium.

Penggantian tes pemeriksaan tersebut sesuai SK Kepala Dinkes Boyolali nomor 443.4/0152/4.2 tahun 2021, tentang Penggunaan rapid diagnostik test antigen sebagai alat pemeriksaan Covid-19. SK berlaku mulai Juni.

“Iya, kendala waktu jadi terpaksa diganti,” ujar Kepala Dinkes Boyolali, Ratri S Survivalina, Selasa (6/7/2021).

Baca Juga :  Setelah Hujat Pemerintah dan Tobat, Kades Jenar Ditunjuk Jadi Duta Vaksin Kabupaten Sragen

Dijelaskan, Boyolali masuk dalam wilayah kriteria C pada penggunaan swab antigen. Penggunaan alat swab antigen sudah diberlakukan sebagai alat pemeriksaan Covid-19.

Swab antigen berlaku untuk proses tracing atau pelacakan dan skrining pada klaster penularan Covid-19.

“Kami sudah memberlakukan swab antigen sebagai sarana pemeriksaan Covid-19. Pasalnya, swab PCR mengalami kendala waktu dan tempat.”

Diakui, swab PCR sendiri memakan waktu cukup lama. Yakni, waktu tunggu pengiriman sampel lebih dari 24 jam. Sedangkan waktu tunggu hasil pemeriksaan PCR lebih dari 48 jam.

Baca Juga :  Wah, Ternyata Masih Banyak Perangkat Desa di Sragen Belum Vaksin Karena Takut!

Sehingga pihaknya memberlakukan swab antigen sebagai alat tes untuk tracing dan skrining.

“Akurasi swab antigen mencapai 92 persen hampir sama dengan swab PCR,” paparnya.

Disinggung tingginya angka paparan Covid-19 selama beberapa pekan terakhir, menurut Ratri bukan karena antrean laboratorium.

Melainkan adanya mutasi virus delta dengan penyebaran yang cepat. Saat ini sudah ada dua klaster dari Kudus yang diduga membawa virus varian baru.

Baca Juga :  Ratusan Warga Gesi, Sragen Desak TPA Tanggan Ditutup

Sampai saat ini di Boyolali ada 48 klaster aktif. Klaster aktif ini didominasi klaster keluarga dengan total kasus aktif 3.303.

Pasien yang menjalani perawatan sebanyak 304 orang sedangkan yang menjalani isolasi mandiri sebanyak 3.003.

“Penambahan kasus hingga pukul pukul 16.00 tanggal 6 Juli sebanyak 456. Boyolali masih berada dizona risiko sedang dengan skor indeks kesehatan masyarakat (IKM) 2,23.” Waskita