GROBOGAN.NEWS Solo

Innalillahi, 5 Ibu Hamil di Sragen Meninggal Dunia saat Melahirkan Karena Terpapar Covid-19. DKK Sebut Mayoritas Dipicu Kondisi Ini!

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, Hargiyanto.

SRAGEN, GROBOGAN.NEWS-Sebanyak lima ibu hamil di Sragen dilaporkan meninggal dengan kondisi positif terpapar covid-19.

Adanya penyakit penyerta dan kondisi pre eklamsia berat (PEB) menjadi pemicu terbesar kematian tersebut.

Fakta itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, Hargiyanto, Kamis (24/6/2021). Ia mengatakan sejak awal 2021 hingga kini sudah ada 9 kasus kematian ibu saat melahirkan.

Dari jumlah itu, lima kasus di antaranya meninggal terkonfirmasi positif covid-19. Sedangkan empat kasus lainnya bukan karena terpapar.

“Kasus ibu hamil yang meninggal dunia terkonfirmasi covid ada 5 dari total kasus 9 kematian sejauh ini di 2021,” papar Hargiyanto, kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Kamis (24/6/2021).

Baca Juga :  Bupati Sragen Ajak 100 Lebih PNS yang Pernah Terpapar Covid-19 untuk Jadi Pendonor Plasma Konvalesen

Ia menguraikan sejauh ini, tren kasus kematian ibu memang masih tinggi. Di tahun 2019 ada 7 kasus, kemudian di 2020 melonjak jadi 23 kasus dan 2021 sampai Juni ini sudah 9 kasus.

Menurutnya, banyak faktor yang memicu kasus kematian ibu hamil tersebut. Di antaranya karena penyakit penyerta, seperti paru-paru, kanker, sakit jantung berat dan pre eklamsia berat (PEB).

Faktor terakhir itu menjadi faktor yang paling banyak berkontribusi mengakibatkan kematian yang terjadi selama ini.

Baca Juga :  Mengenaskan, Kakek Asal Sragen Ini Tewas Minum Racun Lantarn Depresi

“Yang terbesar karena faktor PEB. Termasuk dari 9 kasus tahun ini. Yang lainnya karena sakit jantung berat dan penyerta lainnya,” terangnya.

Tingginya kasus kematian ibu hamil itu, menurut Hargiyanto, menjadi salah satu PR bagi organisasi profesi bidan atau IBI yang hari ini memasuki HUT ke-70.

Ia berharap peran bidan lebih maksimal dalam melakukan deteksi dan pendampingan awal kepada ibu hamil. Sehingga apabila ditemukan kondisi berisiko, bisa segera dilakukan penanganan.

“Faktor lain mungkin pas awal pandemi kemarin, ibu hamil mau periksa agak takut. Sehingga kemungkinan untuk rujukan agak terlambat,” terang Hargiyanto.

Baca Juga :  Sapi Kurban di Kartasura Sukoharjo Ini Disembelih Setelah Dikeluarkan dari Septictank. Lho, Kok Bisa?

Untuk menekan angka kematian ibu hamil dan kematian bayi (AKI-AKB), pihaknya mendorong koordinasi sinergis dan komunikasi dari beberapa jalur fasilitas pelayanan kesehatan.

Ia menyampaikan ada tiga jalur yang terlibat. Yakni faskes primer, jalur lalu lintas rujukan maksudnya bagaimana merujuk rumah sakit yang dituju dan kesiapan rumah sakit.

“Berarti ada kalau yang mau merujuk harus telpon rumah sakit dulu. Jangan sampai rumah sakit belum siap, di sana harus ada dokternya dan sebagainya. Koordinasi ini yang memegang peranan penting,” jelasnya. Wardoyo