GROBOGAN.NEWS Umum Magelang

Antisipasi Hujan Abu Vulkanik Erupsi Gunung Merapi, Penutupan Stupa Candi Borobudur dengan Terpaulin Berlanjut

Ilustrasi Proses penutupan stupa candi Borobudur dilakukan mulai dari lantai 8 dan lorong lantai 1 menggunakan terpal paulin. Stupa Candi Borobudur yang sudah ditutupi terpaulin berada di lantai 8 dan 9. Di lantai 8 ada 32 stupa, kemudian di lantai 9 ada 24 stupa candi. Istimewa

MAGELANG, GROBOGAN.NEWS-Balai Konservasi Borobudur melakukan penutupan seluruh stupa Candi Borobudur menggunakan terpaulin. Penutupan ini sebagai langkah antisipatif dampak hujan abu vulkanik yang mungkin terjadi apabila Gunung Merapi erupsi. Stupa yang ditutup terdapat di lantai 8 sebanyak 32 stupa dan di lantai 9 ada 24 stupa.

Hingga kini, proses penutupan stupa Candi Borobudur di Kabupaten Magelang dengan terpaulin masih berlanjut. Stupa Candi Borobudur yang sudah ditutupi terpaulin berada di lantai 8 dan 9. Di lantai 8 ada 32 stupa, kemudian di lantai 9 ada 24 stupa candi. Dengan demikian berdasar pantauan, totalnya sebanyak 56 stupa Candi Borobudur yang sudah ditutupi dengan terpaulin.

Baca Juga :  Pelantikan Kepala Sekolah dan Madrasah Muhammadiyah Magelang, Pendidikan Karakter Tanamkan dan Perkuat Sikap Sopan Santun pada Generasi Muda

Penutupan terpaulin juga dilakukan pada lantai di lorong 3, 4, 5 dan 6 dengan warna beragam. Lorong yang ditutupi ini pada saat siang hari memantulkan sinar di dinding candi dengan warna berbeda.

Alasan penutupan di lorong ini karena terdapat saluran air atau drainase. Dikhawatirkan jika abu masuk di saluran air, semakin sulit dibersihkan. Demikian di stupa candi itu, ada lubang-lubang yang jika abu masuk sulit dibersihkan.

Pamong Budaya Ahli Madya Balai Konservasi Borobudur (BKB) Yudi Suhartono mengatakan upaya tersebut sebagai kesiapan BKB meminimalisasi dampak bahaya abu vulkanik terhadap candi. Salah satunya adalah pada saluran drainase dan pelapukan batunya.

Baca Juga :  Selama Digulirkannya PPKM, Seluruh Tempat Hiburan di Kota Magelang Ditutup

“Selain mencegah pelapukan batu karena di bawah ada saluran drainase yang harus kita lindungi,” kata Yudi, kemarin.

Penutupan stupa dan lorong dengan terpaulin, kata dia, belajar dari pengalaman Merapi 2010 dan Kelud 2014 yang meletus mengeluarkan abu vulkanik sampai Candi Borobudur. Saat itu abu vulkanik memiliki pH 3-4, itu asam. Ketika pH asam itu kena batu, dia akan mengalami kerusakan batu.

“Batu akan menjadi lapuk kalau dibiarkan terus menerus. Pengalaman itu yang membuat kita melaksanakan ini,” kata Yudi.

Upaya penutupan ini dilakukan, lanjutnya, akan memudahkan proses pembersihan. Sedangkan saat erupsi Merapi 2010, pembersihan sulit sekali hingga membongkar batu lantai untuk membersihkan drainase.

Baca Juga :  Pemkot Magelang Terima Hibah Sumur Resapan 21 Titik

“Pengalaman 2010 setengah mati kita membersihkannya. Membongkar batu lantai membersihkan drainase,” bebernya. F Lusi