GROBOGAN.NEWS Blora

Sempat Mangkrak Selama 34 Tahun, Tahun Ini Bandara Ngloram Blora Siap Didarati Pesawat Komersial

Sejak terakhir beroperasi tahun 1984, bandara ini berhasil dipergunakan pendaratan pesawat komersial ATR 72 milik maskapai penerbangan NAM Air berkapasitas penumpang 70 orang pada Rabu (30/12) lalu. Istimewa

BLORA, GROBOGAN.NEWS– Sempat mangkrak proses renovasi selama 34 tahun, saat ini Bandara Ngloram di Blora, Jateng siap didarati pesawat komersial. Uji coba pendaratan telah dilakukan dan berjalan dengan baik sesuai standar bandara komersil

Hal ini catatan sejarah bandara yang berada di wilayah Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora pada penghujung tahun 2020 menjadi

Sejak terakhir beroperasi tahun 1984, bandara ini berhasil dipergunakan pendaratan pesawat komersial ATR 72 milik maskapai penerbangan NAM Air berkapasitas penumpang 70 orang.

“Ini sebagai bukti penerbangan (Approving Flight) dan kelayakan Bandara Ngloram untuk beroperasi. Kalau tidak layak, tidak mungkin ada pendaratan pesawat. Dan sudah siap untuk penerbangan komersil,” ujar Chris Kuntadi Staf Ahli Menteri Perhubungan di Bandara Ngloram, Rabu (30/12) lalu.

Dikatakannya, penerbangan pesawat komersil ATR 72 rombongan 10 orang dengan Pilot Kapten Kurniawan Akbar bersama Co Pilot musanif Renggo, berhasil mendaratkan pesawat dengan mulus sekira pukul 07.58 WIB.

Baca Juga :  Sinergitas Jaga Kondusifitas Daerah Terus Diperkuat

Chris Kuntadi menyampaikan, saat ini jenis pesawat pesawat ATR 72 sudah cukup untuk melayani masyarakat.

Dengan rute Cepu-Surabaya, Cepu-Semarang dan Cepu-Jakarta. Tarif tiket, lanjut dia, nanti akan dibicarakan dan ditentukan dengan pihak maskapai.

“Tentunya harganya wajar. Kalau bisa untuk awal harga tiketnya bisa disubsidi oleh pemerintah daerah. Kepala Bandara  Ngloram juga bertanggungjawab melakukan loby ke maskapai lain seperti Citylink dan Wings Air,” terangnya.

Di tempat yang sama  Bupati Blora Djoko Nugroho, menyampaikan, supaya masyarakat bisa memanfaatkan Bandara Ngloram untuk membuka akses dengan pesawat terbang dan menyosialisasikan kepada masyarakat.

“Ini daya tarik yang luar biasa. Apapun akan kita pertaruhkan. Bandara harus terus kita bangun dan yang lain sementara mengalah dulu,” ucap Bupati Blora Djoko Nugroho.

Termasuk akses dari pertingaan desa Mulyorejo menuju Bandara Ngloram, kata Nupari bakal diperlebar dengan kontruksi cor beton.

“Anggaran sudah ada,” jelasnya.

Baca Juga :  Disiplin Protokol Kesehatan Terus Diperkuat

Kepala Bandara Dewandaru Karimunjawa yang juga membawahi Bandara Ngloram, Ariadi Widiawan menjelaskan, dengan mendaratnya pesawat reguler ATR 72 bukan berarti perjuangan selesai.

Menurutnya, ini adalah awal dan selanjutnya akan melakukan lobi dengan pihak Wings Air dan Citylink.

“Target kedepan bisa membuka rute Surabaya-Ngloram (Cepu),” kata dia.

Pihaknya menyampaikan, permohonan maaf kepada masyarakat, terkait dengan kedatangan pesawat hari ini karena sebelumnya tidak dipublikasikan.

Hal itu disebabkan, ada kekhawatiran bisa menimbulkan kerumunan. Terlebih saat ini masih dalam masa pandemi Covid-19.

“Dikhawatirkan ada klaster baru. Insaallah Bandara Ngloram bisa beroperasi pada tahun 2021,” ujarnya.

Seperti diketahui Bandara Ngloram dibangun di era Orde Baru sempat beroperasi di tahun 1980-1984 sebagai bandara khusus. Artinya bandara yang hanya digunakan untuk melayani kepentingan sendiri untuk menunjang kegiatan pokoknya.

Pada masanya Bandara Ngloram digunakan hanya untuk kepentingan Pertamina EP, Pusdiklat Migas dan dosen untuk Akamigas.

Baca Juga :  Infrastruktur Jaringan Internet untuk Mal Pelayanan Publik di Blora Dibenahi

Bandara Ngloram adalah salah satu bandara di Indonesia yang dibangun untuk tujuan memaksimalkan pengelolaan minyak dan gas bumi.

Dalam dunia penerbangan internasional, nama resmi Bandara Ngloram adalah Ngloram Air Strip.

Fungsi utamanya adalah mengangkut para pengajar dan periset di bidang minyak dan gas bumi menuju Pusat Pengembangan Tenaga ( PPT ) Perminyakan dan Gas Bumi di Kecamatan Cepu.

Setelah dilakukan pembangunan tahap pertama, akhirnya pada awal Januari 2020 lalu, untuk pertama kali dilakukan ujicoba dengan pesawat Kalibrasi. King Air B200 GT milik Kementerian Perhubungan. Ahmad