Warga Gebang, Masaran Resah Tambang Ilegal Masaran Berhenti, Namun Bekasnya Menganga dan Rawan Longsor

Kondisi bekas kerukan galian C di Gebang Masaran yang kini dibiarkan setelah operasional tambang dilaporkan berhenti usai ditengarai tidak mengantongi ijin. Foto/Wardoyo
  • Bagikan

SRAGEN, GROBOGAN.NEWS – Warga Desa Gebang, Kecamatan Masaran, Sragen dibuat gemas oleh ulah para penambang galian C yang mereka nilai tak bertanggung jawab.

Pasalnya, setelah mereka dinyatakan ilegal dan menjadi pemberitaan media, mereka pun berhenti beroperasi.

Namun sayangnya, mereka pergi begitu saja tanpa pertanggungjawaban atas lingkungan sekitar. Dibirkannya lobang-lobang tanah menganga lebar dan rawan longsor.

Warga pun mendesak aparat terkait untuk turun tangan menindak tegas pengelola tambang berinisial A itu karena dinilai mengabaikan aturan.

Baca Juga :  Mengenaskan!  Nenek Asal Sragen Ini Tubuhnya Hancur Tersambar Kereta di Sumberlawang

“Sudah berhenti sekitar 3 hari ini. Tapi yang jadi masalah, sekarang lokasi bekas tambang dan sekitarnya dibiarkan tanpa ada tindaklanjut penanganan. Mereka yang dapat enaknya kita lingkungan yang dirugikan,” ujar SN, warga dekat lokasi tambang kepada wartawan Rabu (13/10/2021).

SN menuturkan hingga kini pengelola juga tidak kunjung melakukan pemulihan atau reklamasi lokasi bekas dikeruk.

Baca Juga :  Baru 8 Bulan Sudah Dicopot, Pengelola Pasar Desa Majenang, Sragen Protes

Hal itu dinilai sangat membahayakan lahan di sekitarnya karena berpotensi memicu longsor. Selain itu dampak terhadap lingkungan lainnya juga terkesan dikesampingkan.

“Kami minta dari Pemkab atau pihak aparat segera bertindak. Kalau tidak, nanti akan menjadi kebiasaan. Menambang tanpa ijin, begitu disorot lalu berhenti dan tidak ada tanggungjawabnya. Lama-lama lingkungan bisa rusak semua,” tukasnya kesal.

Galian C yang mengeruk lahan dan dikomersilkan itu memang sempat jadi sorotan karena ditengarai tidak mengantongi izin. Bahkan, beredar kabar praktik penambangan itu telah didatangi oleh aparat kepolisian.

Baca Juga :  Nguri-uri Kesenian Tradisional Terus Berkumandang  

“Iya sudah beberapa minggu beroperasi. Kelihatannya memang belum berijin, padahal itu tanah urugnya dijual ke luar. Kalau nggak berijin kan merugikan, apalagi dampak ke lingkungan akhirnya terabaikan,” papar Suyadi, salah satu warga Kamis (7/10/2021) lalu.

  • Bagikan