Ekonomi Sulit di Tengah Pandemi, Mau Kulakan Pertalite di SPBU  Malah Dipersulit.  Penjual  Bensin Eceran di Sragen Menjerit

1508 SPBU
ilustrasi BBM / pixabay
  • Bagikan

SRAGEN,  GROBOGAN.NEWS  Sudah ekonomi sulit di tengah PPKM akibat pandemi Covid-19,  masyarakat kecil  di Sragen, khususnya penjual bensin eceran, masih direpotkan saat mau kulakan bensin pertalite di SPBU.

Pasalnya, muncul kebijakan baru berupa  pembatasan pembelian untuk pedagang eceran. Kebijakan itu membuat pedagang eceran kini makin menjerit di tengah sulitnya ekonomi masa Pandemi Covid-19.

Pembatasan pembelian BBM jenis Pertalite itu dikeluhkan oleh pedagang di beberapa wilayah. Sumardi (40) atau sering dipanggil dengan Jhon, penjual BBM eceran asal Desa Gading, Kecamatan Tanon, Sragen mengatakan sudah hampir sepekan ini, dirinya semakin sulit untuk kulakan BBM pertalite di SPBU.

Hal itu karena pihak SPBU kembali menerapkan pembatasan volume pembelian.  Ia menyebut sejak awal bulan Agustus ini, pihak SPBU di wilayahnya membatasi untuk pedagang dengan jeriken hanya boleh membeli 10 liter Pertalite saja perhari.

Baca Juga :  Petani di Sragen Dapat Tawaran Kerja Sama Kemitraan dengan Konsep Pertanian Modern

“Iya semakin sulit Mas. Pemerintah ini bagaimana, nggak kasihan sama wong cilik. Namanya orang kecil kok dibikin sulit terus ini gimana. Cuma mau beli bensin (pertalite) dijual lagi, nyari untung dikit kok cuma dijatah 10 liter aja sehari,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Minggu (15/8/2021).

Sumardi menuturkan padahal sebelumnya perhari bisa membeli 35 liter sampai 40 liter pertalite perhari. Bahkan berapapun dia membeli tetap dilayani. Pertalite itu dibeli dari SPBU dengan harga Rp 7.650 perliter. Kemudian ia jual lagi Rp 9000 perliter.

Baca Juga :  Pria Asal Sragen Ini Mencangkul Mobil Tetangga, Lalu Membakarnya Hingga Ludes Tinggal Kerangka. Ternyata Ini Sebabnya

Sejak awal Agustus ini, pembelian dibatasi maksimal hanya 10 liter saja. Untuk harga masih sama yakni Rp 7.650 perliter.

Dengan pembatasan itu, praktis volume yang ia jual juga menurun drastis. Akibatnya penghasilannya juga merosot. Padahal jualan bensin eceran itu selama ini ibarat menjadi penopang kebutuhan keluarga karena profesi utamanya sebagai seniman mati total akibat Pandemi.

“Kalau harganya masih tetap sama, cuma sulitnya itu yang jadi masalah cuma dijatah 10 liter aja. Saya nggak habis pikir pemerintah ini maunya apa,” terangnya.

 

Mobil Bebas dan Pertamax Dijual Bebas

Ia juga mempertanyakan alasan pembatasan hanya pada BBM pertalite untuk pedagang eceran. Sementara pembelian untuk mobil pribadi dan konsumen tidak dibatasi.

Baca Juga :  Kabar Gembira, Polsek Gondang Sragen Gelar Vaksinasi Covid-19 Gratis Dengan Kuota 1.200 Dosis

Kemudian BBM lain jenis Pertamax juga dijual bebas tanpa ada pembatasan. Padahal baik Pertalite dan Pertamax sama-sama tidak bersubsidi.

“Ini seolah-olah mau mematikan pedagang eceran Mas. Kalau memang dibatasi, kenapa hanya Pertalite, sedang Pertamax tidak. Kalau masyarakat kan carinya Pertalite yang lebih murah dan irit. Kalau ngecer Pertamax agak mahal nggak banyak yang minat,” jelasnya.

Sumardi mengaku sempat kaget dengan pembatasan itu. Sebab tidak pernah ada pemberitahuan terlebih dahulu. Bahkan ia sempat komplain dan bertengkar sama petugas maupun penjaga SPBU.

Halaman:
1   2   Show All

  • Bagikan