Ratusan Warga Gesi, Sragen Desak TPA Tanggan Ditutup

2707 sampah
Warga berada di antara dua gunungan sampah di TPA Tanggan yang sudah overload dan makin berdampak polusi bagi warga desa setempat, Selasa (27/7/2021) / Foto: Wardoyo
  • Bagikan

SRAGEN, GROBOGAN.NEWS – Tak tahan dengan kondisi TPA yang hampir 30 tahun dinilai hanya menyengsarakan lingkungan dan warga, sedikitnya 300 warga di 5 RT Desa Tanggan, Kecamatan Gesi, Sragen ramai-ramai melakukan aksi.

Mereka mendesak Pemkab melalui dinas terkait untuk menutup operasional Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang ada di desa setempat.

Sementara tuntutan pembenahan pengolahan serta kompensasi untuk warga terdampak, hingga kini tak pernah diperhatikan.

Desakan itu terlontar dari sejumlah tokoh masyarakat, Selasa (27/7/2021). Mereka rame-rame menyuarakan curahan hati terkait keberadaan TPA Tanggan yang selama ini sudah makin meresahkan.

Ketua RT 02, Desa Tanggan, Sutiman (45) mengatakan saat ini kondisi TPA Tanggan sudah semakin meresahkan karena kondisi sampah yang sudah menggunung dan overload.

Baca Juga :  Baru Capai 40 Persen, Pemkab Sukoharjo Akhirnya Genjot Vaksinasi Covid-19

Tidak hanya melebihi ketinggian permukiman, gunungan sampah juga telah meluber mendekati permukiman di sekitar.

Menurutnya ada 4 RT yang saat ini makin terdampak yakni RT 1, 2, 14 dan 15 dengan total hampir 250 KK.

“Kalau dulu mungkin belum begitu meresahkan. Tapi sekarang sudah overload, makin melebar dan mendekat ke permukiman. Sekarang jarak gunungan sampah ke permukiman di sebelah barat hanya 300 meter. Ini sangat-sangat mengganggu terutama dampak bau yang setiap hari makin menyengat. Belum lagi dampak lalat dan nyamuk yang sekarang tidak lagi musiman tapi tiap hari menyerbu ke permukiman. Ini benar-benar memprihatinkan sekali,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Selasa (27/7/2021).

Langgar SOP

Sutiman menguraikan warga makin resah karena pengelolaan yang diduga melanggar SOP. Sampah yang harusnya dibuang dan diurug, justru dibiarkan menggunung.

Baca Juga :  Pria Asal Sragen Ini Mencangkul Mobil Tetangga, Lalu Membakarnya Hingga Ludes Tinggal Kerangka. Ternyata Ini Sebabnya

Kemudian limbah tinja yang harusnya diolah dan dinetralisir dulu, justru hanya dialirkan ke saluran menuju permukiman.

Kondisi kolam pembuangan limbah tinja di TPA Tanggan yang tanpa instalasi pengolahan sehingga memperparah dampak polusi ke lingkungan sekitar. Foto/Wardoyo

Hal itu membuat polusi bau dari waktu ke waktu makin parah. Sementara selama ini penderitaan warga tak pernah diimbangi dengan perhatian. Baik kompensasi untuk fasilitas kesehatan maupun perbaikan gizi.

Sutiman menyebut sudah hampir 6 tahun dirinya dan warga di 4 RT berjuang menuntut kompensasi, namun hanya sekali saja diberi sembako.

Padahal berdasarkan UU No 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah, warga di radius terdampak, berhak mendapat kompensasi yang melekat.

Baca Juga :  Kasus Covid-19 di Sragen Makin Berkurang. Hanya Tambah 10 Kasus dalam Sehari

Mengacu UU itu, warga sebenarnya berhak mendapat kompensasi tambahan perbaikan gizi dan fasilitas kesehatan seperti klinik gratis untuk pelayanan warga.

Karena selama ini tak sedikit warga yang tinggal di radius dekat sudah mengeluhkan gangguan kesehatan seperti pernafasan dan lain-lain.

“Akan tetapi selama 6 tahun kami audiensi dan mengajukan, tak pernah ada perhatian. Sudah hampir 30 sejak TPA ini ada, warga juga nggak pernah dapat kompensasi apa-apa. Makanya kalau memang tidak ada itikad pemerintah untuk memperbaiki pengelolaan dan memberi kompensasi ke warga, lebih baik ditutup saja. Kami sudah jenuh, 30 tahun tak pernah mendapat manfaat tapi hanya dapat dampak buruknya saja,” tegasnya.

Halaman:
1   2   Show All

  • Bagikan