GROBOGAN.NEWS Solo

Pedagang di Pasar Sragen Tangisan. PPKM Darurat, Aktivits Ekonomi Terhenti, Rezeki Seret, Semua Harga Melonjak Tajam

Pedagang sayuran di Pasar Bunder Sragen, Bu Priyo dan suami saat menata dagangan di tengah lonjakan harga dan sepinya pembeli, Senin (19/7/2021) / Foto: Wardoyo

SRAGEN, GROBOGAN.NEWS – Hukum ekonomi terjadi di hampir semua pasar di Sragen sehari jelang Idul Adha. Ketika kebutuhan belanja meningkat, barang sulit diperoleh karena terbatasnya akses lantaran kebijakan PPKM Darurat.

Ujung-ujungnya, harga sampai ke konsumen pun melejit tinggi. Harga terdongkrak tak terkendali dan di luar batas kewajaran.

Pantauan JOGLOSEMARNEWS.COM di Pasar Bunder Sragen Senin (19/7/2021), hampir semua jenis sayuran mengalami kenaikan harga. Tak tanggung-tanggung, kenaikan berkisar antara 20 persen hingga 350 persen.

Salah satu pedagang sayuran di Pasar Bunder, By Sri Giman (60) menuturkan hampir semua jenis sayuran memang mengalami kenaikan harga cukup tajam hari ini.

Kenaikan paling tinggi dicatatkan oleh sayuran putut dari sebelumnya Rp 15.000 perkilo, hari ini meroket menjadi Rp 50.000 atau naik 350 persen.

Padahal selama ini, harga sayuran untuk tongseng dan campuran masakan itu tak pernah melampaui harga di atas Rp 25.000 perkilo.

Baca Juga :  Polemik TPA Tanggan, Sragen, Pihak DLH Segera Perbaiki Pengelolaan Sampah dan Limbah Tinja

“Putut itu pasokannya dari Tawangmangu. Barangnya yang nggak ada, yang beli banyak. Otomatis harga naik tinggi. Kalau kami njualnya tergantung harga kiriman, kalau sudah naik ya kami naikkan,” terangnya.

Kenaikan juga dialami sayuran lainnya. Tomat misalnya dari sebelumnya Rp 6.000 hari ini naik tajam dua kali lipat lebih menjadi Rp 14.000 perkilogram.

Kemudian bawang merah naik Rp 10.000 dari Rp 15.000 menjadi Rp 25.000 hari ini. Pun dengan wortel naik dari Rp 6.000 menjadi Rp 10.000 perkilo hari ini (Kemarin-red).

Kobis yang biasanya hanya Rp 3.000 jadi ini juga meroket dua kali lipat jadi Rp 6.000. Tak jauh beda, cabe sret juga ikut-ikutan naik dari Rp 35.000 menjadi Rp 50.000. Telur pun juga mengalami kenaikan dari Rp 20.000 menjadi Rp 23.000 perkilo.

“Kalau sayuran lain, pasokan ada tapi harga dari sana sudah naik semua. Ini juga sejak PPKM darurat itu,” ujar Sri.

Baca Juga :  PPKM Level 4 di Sukoharjo Belum Berdampak Signifikan, Kasus Positif Covid-19 dan Kasus Meninggal Masih Terus Bertambah

Dampak PPKM Darurat

Kenaikan harga itu diiringi dengan penurunan daya beli masyarakat. Sri menuturkan semenjak wabah Corona ditambah PPKM darurat, omzet penjualannya merosot drastis sampai 50 persen dari biasanya.

“Benar-benar sepi sekarang Mas. Susah,” imbuhnya.

Pedagang sayuran lainnya di Pasar Bunder, Bu Priyo (65) menuturkan harga semua jenis sayuran yang dijualnya juga berubah harga hari ini. Menurutnya hampir semua mengalami kenaikan harga kecuali kentang yang turun dari Rp 12.000.jadi Rp 10.500.

Selebihnya, semua sayuran mengalami kenaikan harga. Besaran kenaikan bervariasi tergantung dari pasokan.

“Kubis naik dari Rp 4.500 jadi Rp 5.000. Lalu wortel yang biasanya Rp 6.000 hari ini naik jadi Rp 10.000. Sawi putih juga naik Rp 6.000 jadi Rp 9.000.

Kemudian tomat naik dari Rp 12.000 jadi Rp 15.000, bawang merak dari Rp 15.000 jadi Rp 30.000. Hampir semua naik Mas,” ujar pedagang asal Plasoan, Magetan, itu.

Baca Juga :  Peserta Vaksinasi di Desa Kecik, Tanon Sragen Lebihi Kuota

Ia menduga kenaikan tajam semua komoditas itu imbas dari PPKM darurat yang dibarengi dengan penutupan serta penyekatan jalan. Sehingga produsen dan distributor pemasok sayuran dari wilayah penghasil, kesulitan untuk mengirim barang.

“Jalan-jalan ditutup, jadi yang mau panen juga takut nanti nggak bisa jual. Yang kulakan juga nggak jalan karena takut disekat di jalan nggak bisa nyetori,” ujarnya.

Terlepas dari kenaikan harga, Bu Priyo menyebut semenjak pandemi dan PPKM Darurat, berimbas buruk pada aktivitas pasar.

Hampir semua pedagang sayuran termasuk dirinya memang menangis lantaran pasar menjadi sangat sepi.

Pasalnya dampak pembatasan kegiatan, banyak rumah makan, pedagang keliling yang selama ini menjadi langganannya, sementara berhenti belanja karena tutup.

“Hajatan juga nggak boleh, otomatis pasar sepi. Pedagang pada tangisan ini Mas. Omzet turun separuh lebih. Biasanya kalau sayuran kami dipasok dari Tawangmangu, Magelang, Boyolali dan beberapa daerah lain,” tandasnya. Wardoyo