GROBOGAN.NEWS Semarang

Panglima Santri Gayeng Nusantara Tegaskan Indonesia Negara yang Menjunjung Tinggi Toleransi Umat Beragama

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen saat menghadiri acara Halal bi Halal secara virtual dengan RS dr.Moewardi Surakarta, belum lama ini. Ist

SEMARANG, GROBOGAN.NEWS-Tahun ini, perayaan Idul Fitri oleh umat Islam berbarengan dengan Peringatan Kenaikan Isa Al-Masih yang dirayakan umat Kristiani.

Perayaan dua agama pada saat yang bersamaan ini sempat memunculkan kekhawatiran akan terjadi gesekan. Namun, kekhawatiran itu ternyata tidak terjadi.

“Saya senang ini. Karena apa? Tidak ada konflik, tidak ada benturan, tidak ada gesekan yang menyebabkan perpecahan dalam beragama dan bernegara kita,” kata Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen saat menghadiri acara Halal bi Halal secara virtual dengan RS dr.Moewardi Surakarta, belum lama ini.

Baca Juga :  Kembali, Gubernur Ganjar Turun Tangan Langsung Ingatkan Kedisiplinan Prokes kepada Warga saat Monitoring di Sentra Vaksinasi di Gedung UTC Jateng

Menurutnya, peristiwa itu menjadi bukti tingginya toleransi di Indonesia. Meskipun masyarakatnya beragam, mulai dari suku, bahasa, budaya juga agama, tetapi kerukunan tetap terjaga.

“Saya ucapkan terima kasih karena inilah Indonesia. Inilah bangsa kita yang menjunjung tinggi kebersamaan, yang menjunjung tinggi toleransi. Kita bisa ber-Idul Fitri, menjalankan sholat berjamaah, dan teman-teman kita di gereja melakukan peringatan Isa Al-Masih dengan damai, dengan tenang,” terangnya.

Baca Juga :  Bangun Semangat Pasien Covid-19 di Kota Semarang, Gubernur Ganjar Tawarkan Hadiah Khusus

Menurut Taj Yasin, umat Islam sudah seharusnya menjadi umat yang penuh toleransi seperti yang diajarkan Rasullullah SAW. Ia mengutip kisah beliau saat tinggal di Mekah.

“Ketika Rasulullah masih di Mekah, Rasulullah di datangi (kaum) Quraisy dan diberi tawaran untuk kompromi. Rasulullah (akan) diberi hadiah uang berapapun yang diinginkan, atau hadiah siapapun yang ingin beliau pilih untuk mendampingi,” jelas dia.

“Dengan syarat (ia menerima yang) mereka tawarkan. Bagaimana  kalau hari ini kita menyembah Tuhanmu, dan besok bersama-sama menyembah Tuhan kami,” paparnya.

Baca Juga :  Bupati Ngesti Dorong Warga Budidayakan Tanaman Porang, Ada Apa?

Meskipun sudah pasti tawaran itu ditolak, tetapi Rasullullah SAW tidak serta merta langsung menanggapi dengan negatif. Rasulullah SAW menyampaikan, pihaknya akan menunggu petunjuk dari Allah SWT. Sehingga, turunlah QS Al Kafirun.

“Di sini ditekankan, beragamalah dengan agamamu. Maka ditutup lakum diinukum wa liya diin. Maka kalau kita bicara NKRI, bicara tentang toleransi,  sebenarnya kalimat  toleransi adalah bagaimana kita menghormati sesama manusia. Sesama warga Indonesia,” tutupnya. Arya