Kasus Investasi Semut Ngangang, Berinvestasi Hingga Rp 5 Miliar Khabib Sempat Stress Dikejar-Kejar

Khabib, salah satu mitra MSB asal Ngawi dengan rambut yang sudah dipotong rekannya usai sidang pembebasan Bos CV MSB, Selasa (27/4/2021) /  Foto: Wardoyo
  • Bagikan

SRAGEN, GROBOGAN.NEWS – Merasa dikejar-kejar tanggung jawab oleh 60 orang kerabatnya, Khabib Khoirul Mustofa (32) salah mitra dari Ngawi, Jawa Timur merasa senang dan bersyukur Dirut CV Mitra Sukses Bersama (MSB), Sugiyono bebas dari penjara.

Selain Khabib, masih banyak orang yang merasa menjadi korban dari investasi semut ngangrang yang dijalankan oleh Sugiyono.

Mereka yang menjadi korban  dan tidak melapor, berharap banyak uangnya bisa kembali. Karena itulah, bebasnya Sugiyono disambut dengan gembira.

Baca Juga :  Mahasiswa UNS Wafat Diduga Setelah Ikuti Diklat di Bawah Jembatan Jurug. Otoritas Kampus dan Kepolisian Sama-Sama Tunggu Hasil Otopsi

Khabib jauh-jauh datang dari Ngawi dan hadir di persidangan dan sempat meluapkan kegembiraan usai vonis dibacakan.

“Saya sangat terharu sekali. Sangat luar biasa. Terimakasih Ya Allah,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Selasa (27/4/2021).

Dengan mata berkaca-kaca, Khabib menceritakan dirinya bergabung dengan CV MSB beberapa tahun lalu. Pria asal Desa Bendo, Padas, Ngawi itu tertarik keuntungan setelah mendapat penjelasan dari koordinator Sutrisno.

Baca Juga :  Tren Penurunan Kasus Covid-19 di Sragen Berlanjut, Ini Faktanya

Usai mengecap manisnya keuntungan di awal, Khabib kemudian mengajak keluarganya. Sampai kemudian ada 60 anggota keluarganya yang ikut bergabung.

Dari 60 orang itu, sampai saat ini total investasi yang masuk dan belum terbayar mencapai 2.350 paket semut rangrang dengan nilai uang sebesar Rp 5,1 miliar.

Angka itu diperoleh dari akumulasi harga satu paket terakhir panen dinilai Rp 2,2 juta. Khabib menuturkan vonis bebas itu ibarat angin segar bagi dirinya.

Baca Juga :  Mangkir dari Cicilan Utang Rp 106 Juta, Juragan Laundry Asal Sragen Ini Dipolisikan

Sebab sejak MSB tutup, ia mengaku stres berat karena terus dikejar-kejar pertanggungjawaban dari saudara-saudaranya.

“Selama ini saya terus ditanya saudara-saudara saya yang ikut suruh belikan paket. Semua ada 60 orang keluarga saya yang ikut. Ada lik, paklik, Bulik, sampai Mbah. Hampir setiap hari didatangi orang kapan uang bisa kembali. Saya hanya bisa nangis, pasrah,” ujarnya.

  • Bagikan