Seniman dari 35 Daerah se-Jawa Tengah Gelar Aksi Protes Pemberlakuan PPKM Mikro

Para seniman dari berbagai wilayah di Jawa Tengah saat menggelar aksi protes dan deklarasi mendesak Presiden dan pemerintah memberi kelonggaran untuk hajatan dan pencaharian para seniman. Aksi digelar di WKO Sragen, Jumat (26/2/2021) /  Foto: Wardoyo
  • Bagikan
Para seniman dari berbagai wilayah di Jawa Tengah saat menggelar aksi protes dan deklarasi mendesak Presiden dan pemerintah memberi kelonggaran untuk hajatan dan pencaharian para seniman. Aksi digelar di WKO Sragen, Jumat (26/2/2021) /  Foto: Wardoyo

SRAGEN, GROBOGAN.NEWS – Para pekerja seni dan seniman se-Jawa Tengah menggelar aksi damai di warung apung Waduk Kedung Ombo wilayah Ngasinan, Desa Ngargotirto, Kecamatan Sumberlawang, Sragen, Jumat (26/2/2021).

Melalui aksinya tersebut, mereka memprotes kebijakan pemerintah terkait pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro.

Pasalnya, dampak penerapan PPKM membuat mereka kehilangan pencaharian akibat pembatasan kegiatan hajatan di masyarakat.

Pandemi Covid-19 yang berlangsung hampir satu tahun ditambah pemberlakuan PPKM membuat nasib para pekerja seni dari berbagai wilayah di Jawa Tengah makin sengsara.

Baca Juga :  Gojekan di Atas Motor Akhirnya Nggloyor, Sepeda Motor Ini Nggasak Avanza. 2 Orang Luka Parah, Sorang Luka Ringan

Puluhan pekerja seni perwakilan berbagai kabupaten kota di Jawa Tengah itu hadir dengan menamakan Seniman Nusantara (Setara) Jateng.

Mereka hadir dari perwakilan pekerja seni di 35 kabupaten kota di Jawa Tengah. Ketua Setara Jawa Tengah, Dwi Sunarto mengatakan aksi itu
digelar sebagai bentuk protes atas kebijakan PPKM mikro yang selama ini diterapkan dan diperpanjang hingga 8 Maret.

Pasalnya pemberlakuan PPKM yang tidak sinkron dan berbeda-beda di tiap daerah memaksa sebagian besar seniman kehilangan mata pencaharian.

Baca Juga :  Kondisi Sragen Kian Membaik, Hanya Ada Tambahan 3 Kasus Positif Covid-19. Lokasi Isolasi Sudah Kosong

“Kami hanya ingin menyampaikan bahwa kami sudah sekitar satu tahun tidak bisa bekerja. Apalagi yang hanya mampu berkecimpung di dunia kesenian, mereka datang ke sini penuh perjuangan dan mencari keadilan bersama gelar aksi ini,” paparnya kepada wartawan.

Menurutnya, yang menjadi kendala dalam PPKM Mikro adalah kebijakan di setiap daerah yang berbeda-beda tergantung keputusan dari kepala daerah masing-masing.

Baca Juga :  Wilayah Tanon dan Plupuh,  Sragen Dihajar Hujan dan Angin Kencang. 20 Rumah Rusak dan Sejumlah Pohon Bertumbangan

Perbedaan itu ada pada pembatasan kegiatan hajatan yang selama ini menjadi ladang penghidupan seniman. Di beberapa daerah, memberikan kelonggaran namun di banyak daerah masih melarang.

Ia mencontohkan seperti Kabupaten Sragen dan Karanganyar masih beruntung karena regulasi memberi kesempatan para seniman berkarya di acara hajatan. Tapi di labupaten lain kesempatan itu hingga kini masih tertutup sehingga membuat para seniman kesulitan untuk hidup.

  • Bagikan