GROBOGAN.NEWS Pati

Petani Rembang Disarankan Sebaiknya Mengurangi Penggunaan Pupuk Kimia

Ilustrasi petani sedang beraktivitas di lahan pertanian. Ist

REMBANG, GROBOGAN.NEWS-Adanya keluhan petani terkait kelangkaan pupuk bersubsidi di Kabupaten Rembang, disinyalir akibat adanya distribusi yang terhambat.

Bupati Rembang Abdul Hafidz menyampaikan, kelangkaan pupuk tersebut sebenarnya bukan karena tidak ada stok pupuk di gudang, namun disebabkan oleh distribusi pupuk yang terhambat.

Di mana sarana transportasi pengangangkut pupuk harus antri panjang, karena bersamaan dengan pemenuhan kebutuhan pupuk daerah lain.

Karenanya, lanjut bupati, untuk merespon keluhan para petani tersebut, pihaknya telah menyepakati bersama PT Pusri, PT Petro Kimia Gresik, dan semua distributor pupuk lainnya untuk mengirimkan pupuk, yang semula sehari enam sampai 10 truk, sekarang diusahkan minimal 12 sampai 24 truk.

Baca Juga :  Pihak Asuransi Akan Dipanggil untuk Bantu Klaim Para Petani

“Namun ini saya pastikan bahwa kita tingkatkan sehari minimal 12 rit sampai 24 rit, yang semula enam sampai 10. Jadi intinya, untuk Januari ini pupuk subsidi cukup, di gudang cukup. Tidak ada kekurangan dan tidak ada kelangkaan,” ungkap bupati saat menggelar rakor dengan produsen pupuk di ruang rapat bupati, Senin (18/1/2021).

Baca Juga :  Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Rembang Hanya Dihadiri 25 Tamu Undangan

Pada kesempatan itu, bupati mengajak para petani untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Karena pupuk kimia bisa merusak tekstur tanah.

Menurutnya, pupuk organik justru sangat baik untuk kesuburan tanah.

Ditemui di tempat terpisah, petani dari Desa Manggar Kecamatan Sluke membenarkan, saat ini dirinya kesulitan mendapatkan pupuk. Untuk itu dirinya mengaku senang jika sudah ada solusi dari nupati.

Baca Juga :  Disapa Gubernur saat Divaksin, Para Pedagang Pasar di Pati Semringah dan Mengajak Selfie

“Baguslah, ya senang. Jadinya tidak kesulitan mencari pupuk,” ujarnya.

Sementara, petani dari Sulang Paminto Dwi Atmojo menyampaikan, sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi tidak begitu dirasakan oleh petani olehnya.

Sebab, dia lebih mengandalkan pupuk organik dengan memanfaatkan air kecing dan kotoran kambing gibas peliharaannya.

“Lahan persawahan yang dulunya tandus, sekarang menjadi subur,” ujarnya. Ichsan