GROBOGAN.NEWS Solo

Sejumlah Sekolah di Kota Solo Difungsikan Tempat Isolasi Terpusat

Gedung SDN Kleco 1 dan 2 akan dijadikan tempat isolasi terpusat pasien terkonfirmasi Covid-19 kategori Orang Tanpa Gejala (OTG) di Kecamatan Laweyan, mulai Senin (5/7/2021). Istimewa

SOLO, GROBOGAN.NEWS-Pemerintah Kota Surakarta kembali menggulirkan kebijakan strategis guna penanganan pandemi virus corona atau Covid-19 yang hingga kini belum juga usai.

Berbagai kebijakan inovatif telah digulirkan.

Terbaru, Pemkot Solo berinisiatif untuk membuka lima sekolah yang akan digunakan sebagai lokasi karantina terpusat pasien covid-19 dengan status OTG. Kelima sekolah tersebut yaitu SDN Cemara 2, SMPN 8, SMPN 19, SMPN 11 dan SMPN 25.

Baca Juga :  Tak Tega Lihat Seorang Nenek Histeris Dengar Bansosnya Diblokir Jika Belum Vaksin, Bupati Sragen Batalkan Rencana Pemblokiran

Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka mengatakan pembukaan sekolah sebagai lokasi karantina OTG dilakukan untuk mendisiplinkan warga OTG yang melakukan isolasi mandiri. Gibran meminta isolasi dilakukan secara terpusat dan meminimalkan isolasi mandiri.

“Kita minimalkan isolasi mandiri, semuanya kita taruh di lokasi isolasi terpusat. Tujuannya itu untuk memisahkan yang sehat sama yang sakit,” paparnya, Rabu (7/7/2021).

Baca Juga :  Guru SMKN 1 Gondang, Sragen Meninggal Covid-19. Sekeluarga Juga Terpapar

Diakui Gibran, warga yang melakukan isolasi mandiri mayoritas tidak melakukan isolasinya secara teratur. Dengan memaksimalkan isolasi terpusat, diharapkan mampu memonitor pasien OTG tersebut untuk segera sembuh.

“Tujuannya biar OTG ini cepat sehat. Jadi yang sakit dan sehat dipisahkan. Sejumlah sekolah disiapkan, nanti kita tambah terus kalau dibutuhkan,” imbuhnya.

Baca Juga :  Setelah Hujat Pemerintah dan Tobat, Kades Jenar Ditunjuk Jadi Duta Vaksin Kabupaten Sragen

Sementara itu, Wakil Wali Kota Solo, Teguh Prakosa menambahkan, pemilihan gedung selah sebagai lokasi karantina terpusat dilakukan berdasarkan pertimbangan dari Dinas Kesehatan Kota (DKK). Sedangkan masing-masing sekah berkapasitas 100an tempat tidur.

“Gedung selah dinilai lebih representatif karena jumlah kamar mandinya disesuaikan dengan jumlah siswa. Dan kita terpaksa menggunakan sekolah untuk karantina ini,” tukasnya. Prihatsari