GROBOGAN.NEWS Solo

Angka Kematian Pasien Covid-19 Tinggi, BPBD Boyolali Bentuk Tim Satgas Pemakaman Tingkat Kecamatan

Satgas Covid-19 memakamkan jenazah sesuai protokol Covid di Kecamatan Sambi, Boyolali baru-baru ini / Foto: Waskita

BOYOLALI, GROBOGAN.NEWS-Tingginya tingkat kematian pasien akibat Covid-19 membuat satgas pemakaman tingkat Kabupaten Boyolali kewalahan.

Hampir setiap hari, satgas harus rela bertugas memakamkan jenazah hingga dinihari.

Terkait kondisi tersebut, maka Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali membentuk satgas pemakaman Covid-19 di tingkat kecamatan. Saat ini satgas sudah terbentuk di 10 dari 22 kecamatan se-Boyolali.

“Satgas sudah terbentuk di Kecamatan Juwangi, Wonosamodro, Wonosegoro, Karanggede, Boyolali Kota, Tamansari, Ampel, Cepogo, Musuk, dan Kecamatan Mojosongo. Kami siapkan APD lengkap bagi mereka,” ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Boyolali, Kurniawan Fajar Prasetyo, Selasa (29/6/2021).

Baca Juga :  Polisi dan Satgas Covid-19 Sambungmacan Sragen Bubarkan Hajatan, Karena Berlangsung Terlalu Lama

Satgas kecamatan ini bakal memback-up petugas pemakaman Covid-19 tingkat kabupaten. Sekaligus bisa mengurangi lama antrean pemakaman jenazah. Apalagi selama 10 hari terakhir, jadwal pemakaman mencapai 27 jenazah/ hari.

“Kami didukung 3 mobil jenazah dan 19 petugas, sering bertugas hingga dinihari,” ujarnya.

Belum lagi jika ada kiriman jenazah dari luar daerah, maka kesibukan semakin bertambah. Selama ini, untuk pemakaman dilakukan sesuai nomor urut yang diterima dari pihak rumah sakit.

Baca Juga :  Pandemi Covid-19 Masih Menerpa, Jumlah Hewan Kurban Idul Adha 2021 di Sragen Justru Meningkat

“Setiap jenazah diberi alokasi waktu pemakaman selama 4 jam,” lanjutnya.

Diakui, tugas sebagai pemakaman jenazah dengan protokol Covid-19 butuh perjuangan dan kesabaran. Pihaknya pernah kerepotan karena menerima kiriman jenazah dari luar daerah dalam kondisi belum siap dimakamkan. Jenazah hanya ditutup kain jarik.

“Praktis, jenazah dibawa dulu ke rumah sakit untuk dimandikan dan dikafani hingga siap untuk dimakamkan. Pernah pula pemakaman terhambat karena liang lahat penuh air dampak hujan deras sehingga harus menguras airnya,” kisahnya.

Baca Juga :  Wah, Ternyata Masih Banyak Perangkat Desa di Sragen Belum Vaksin Karena Takut!

Terpisah, Direktur RSU Pandan Arang (RSUPA), dokter Siti Nur Rokhmah Hidayati juga mengakui adanya peningkatan jumlah kematian pasien Covid-19. Bahkan, peningkatan bulan Juni hingga 100 persen dari bulan sebelumnya.

“Bulan Mei ada 10 pasien meninggal, bulan Juni naik 100 persen menjadi 40 pasien,” beber dia.  Waskita