GROBOGAN.NEWS Solo

Pandemi Covid-19 Paksa  3.000-an Buruh di Sragen  Jadi Pengangguran Baru  Ini Harapan SPSI

Ketua SPSI Sragen, Rawuh Supriyanto / Foto: Wardoyo
IMG20210323145123 copy 1024x768
Ketua SPSI Sragen, Rawuh Supriyanto / Foto: Wardoyo

SRAGEN, GROBOGAN.NEWS – Salah satu dampak dari pandemi Cobid-19, di Kabupaten Sragen setidaknya ada sekitar 3.000-an buruh yang terpaksa menjadi pengangguran baru.

Demikian data yang dicatat oleh Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Kabupaten Sragen.

Mereka kehilangan pekerjaan karena dirumahkan oleh perusahaan tempat mereka bekerja.

Badai pandemi covid-19 yang melanda hampir setahun lebih, menjadi alasan perusahaan terpaksa melakukan pengurangan karyawan atau buruh.

“Ada sekitar 3.000-an (buruh). Tapi sekarang perusahaan itu pinter, bahasanya tidak di-PHK (pemutusan hubungan kerja). Akan tetapi istilahnya dirumahkan dulu. Jadi sekarang itu sepertinya nggak ada istilah PHK tapi yang ada dirumahkan,” papar Ketua SPSI Sragen, Rawuh Supriyanto, kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Selasa (23/3/2021).

Baca Juga :  Remaja Tewas Seketika Saat Motornya Menggasak Becak Kayuh di Jalan Tanon-Sragen

Rawuh menguraikan, buruh yang dirumahkan itu mayoritas memang berstatus buruh kontrak. Sehingga secara aturan mereka memang akhirnya kehilangan hak menuntut pesangon.

Selain itu posisi buruh yang diangkat secara kontrak sesuai aturan di UU Tenaga Kerja, memang sangat lemah untuk menuntut apalagi ketika mereka terpaksa harus diberhentikan.

Baca Juga :  Peserta Vaksinasi di Desa Kecik, Tanon Sragen Lebihi Kuota

“Ada yang dari pabrik tekstil, ada yang kerja di rumah sakit. Kalau nggak dirumahkan, ya dioglang. Kadang masuknya cuma 4 kali dan bayarnya ya cuma 4 hari itu. Kalau tidak masuk ya dipotong. Status buruh kontrak memang sangat lemah dari sisi aturan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Rawuh menyampaikan saat ini perusahaan memang menghendaki masih ada harapan untuk bangkit.

Baca Juga :  Sragen Masuk Level 4, Bupati: Banyak Warga Tak Jujur dan Takut Dibawa ke Rumah Sakit

Sehingga mereka mayoritas menjanjikan akan memanggil kembali buruh yang dirumahkan ketika kondisi sudah membaik. Sebagian juga sudah ada yang dipanggil lagi.

“Harapan kami, pertama kalau bisa jangan ada PHK. Yang kedua kalau bisa perusahaan melakukan pemenuhan gaji dan jangan dioglang (diaplus). Kasihan pekerjanya. Lalu yang terakhir mereka buruh yang dirumahkan mohon segera dimasukkan kembali. Supaya tidak ada keresahan masyarakat yang dipekerjakan,” tandasnya. Wardoyo

Berita ini sudah dimuat di https://joglosemarnews.com/2021/03/diterpa-badai-pandemi-3-000an-buruh-di-sragen-terpaksa-harus-pasrah-jadi-pengangguran-baru-tak-bisa-tuntut-pesangon-spsi-sindir-bukan-di-phk-tapi-dirumahkan-dulu/