GROBOGAN.NEWS Solo

Nekat Gelar Hajatan dengan Undang 1.200 Tamu, Hajatan yang Digelar Warga Desa Mliwis, Cepogo Dibubarkan   

Tim Satgas Covid-19 Kabupaten Boyolali terpaksa membubarkan acara hajatan di Dukuh Karanganyar, Desa Mliwis, Kecamatan Cepogo pada Kamis (4/2). Ist

BOYOLALI, GROBOGAN.NEWS-Tim Satgas Covid-19 Kabupaten Boyolali terpaksa membubarkan acara hajatan di Dukuh Karanganyar, Desa Mliwis, Kecamatan Cepogo pada Kamis (4/2).

Pembubaran ini dilakukan karena melanggar aturan dalam masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di Kabupaten Boyolali.

Kasi Operasi dan Pengendalian Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Boyolali, Moch Supriyatin mengatakan, pelanggaran dilakukan karena jumlah orang yang hadir dalam acara tersebut melebihi 30 orang.

Baca Juga :  Kasus Covid-19 di Soloraya Melonjak, Ruang ICU di Lima RS Penuh Terisi Pasien Terpapar Corona

“Kami dari Tim Satgas Kabupaten, kebetulan untuk tim yustisi antara Satpol PP, Polri dan TNI, kita langsung survei ke lokasi (untuk memastikan) benar sesuai protokol kesehatan atau tidak. Ternyata itu tidak,” ungkapnya di sela kegiatan penertiban.

Supriyatin menegaskan, sebelumnya Satgas telah memperingatkan penyelenggara dan tidak memberikan rekomendasi. Namun, warga tetap nekat menggelar hajatan di tengah pandemi. Akibatnya hajatan yang mengundang 1.200 tamu ini dibubarkan.

Baca Juga :  35 Santri Ponpes di Cepogo Boyolali Kena Virus Corona setelah Petinggi Ponpes Terima Tiga Tamu dari Kudus

“Langsung kami bubarkan. Karena kalau tidak tidak dibubarkan akan kami serahkan ke Polres,” tegasnya.

Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban Kecamatan Cepogo, Sigit Purwanto menambahkan, pihaknya tidak akan memberikan rekomendasi masyarakat terkait dengan acara yang melibatkan banyak orang.

Baca Juga :  Dua Klaster Covid-19 di Sragen Ditengarai Berasal Kudus

“Sebenarnya telah melaksanakan edukasi kepada para warga yang mengadakan hajatan, dan kita tidak akan pernah memberikan rekomendasi. Tetapi warga banyak yang tidak patuh,” ujarnya.

Sigit Purwanto menegaskan, kebijakan tersebut dilakukan guna menekan angka perkembangan Covid-19 di Kabupaten Boyolali. Ia berpesan agar masyarakat patuh aturan dan selalu menerapkan protokol kesehatan. P Wawan