KARANGANYAR, GROBOGAN.NEWS — Warga Desa Gerdu, Kecamatan Karangpandan, Karanganyar bersiaga menghadapi potensi terjadinya tanah longsor di wilayahnya. Hal itu dilalukan menyusul tingginya frekuensi curah hujan ekstrem yang terjadi dalam dua minggu terakhir.

Desa Gerdu tergolong zona merah longsor dengan siklus setiap sewindu sekali.

Baca Juga :  Kasus Covid-19 di Sragen Makin Berkurang. Hanya Tambah 10 Kasus dalam Sehari

Bahkan pada Oktober lalu Badan Penanggulangan Bencana Daerah BPBD Karanganyar memasang 15 sirine bencana di sejumlah titik rawan longsor.

Sebanyak 15 sirine itu terbagi dalam tiga fungsi yakni memantau curah hujan, memantau pergeseran tanah dan satu sirine khusus memantau debit air ke Bengawan Solo.

Baca Juga :  Kabar Gembira dari Sragen! Tren Kasus Covid-19 Kian Menurun. Sehari Hanya Tambah 2 Kasus

Kades Gerdu, Very Kurnianto mengatakan sekitar sebulan lalu BPBD Karanganyar memberikan bantuan 15 sirine tersebut khusus dipasang di Desa Gerdu karena desa ini tergolong rawan.

Adapun pemasangan sirine tersebut dipasang dari tenaga ahli Universitas Gajah Mada UGM Yogyakarta.

“Memang seluruh warga Desa Gerdu menyatakan diri siaga bencana mengingat daerah ini sangat rawan dengan kemiringan tanahnya dan labil,” tandasnya, Minggu (22/11/2020).

Baca Juga :  Tak Kuat Nanjak, Truk Tronton Penuh Semen Ngglondor dan Menimpa Panther di Mondokan, Sragen

Apalagi warga Desa Gerdu meyakini cerita rakyat konon setiap sewindu sekali atau siklus delapan tahun terjadi bencana longsor. Terakhir longsor pada 2012 yang menewaskan seorang warga setempat.

Halaman:
1   2   All