Tindakan Debt Collector yang Kian Brutal dan Main Ancam, Resahkan Masyarakat Sragen

ilustrasi debt collector / tempo.co
  • Bagikan

Sebab bukan tidak mungkin kejadian yang sama dialami oleh nasabah lain yang saat ini juga kesulitan membayar angsuran.

“Mestinya leasing bisa membedakan customer yang masih membayar dan yang sengaja mbandel. Kami yang masih mau bayar saja masih diperlakukan begitu, bagaimana dengan orang desa dan awam nggak berani argumen, kalau diancam, ditekan dimintai uang lalu psikisnya nggak tahan, syok dan meninggal, apa nggak kasihan,” ujarnya berang.

 

Aparat Tak Berdaya

Cerita tak kalah tragis diungkap AT (29) nasabah lembaga pembiayaan lainnya berinisial M. Warga Sragen itu mengaku baru dua malam lalu juga didatangi tim DC yang mengaku diberi kuasa sebagai pihak ketiga dari leasing.

Ia yang baru saja melahirkan, malam itu juga dibentak-bentak kasar dan para DC itu langsung mengancam menarik paksa mobil kreditannya. Padahal dia baru dua bulan menunggak angsuran dan sudah siap membayar tapi juga akunnya terblokir.

Baca Juga :  Agustina Wilujeng : Hari Gini Kok Rebutan Kepengin Nyalon Presiden

“Sempat kami debat, karena mereka ngotot mau ambil mobil. Saya tolak karena saya sudah siap bayar. Mereka juga bilang kalau kere nggak usah ngutang. Saya sempat telepon Polsek, datang dua orang anggota. Bukannya nengahi mereka malah kelihatan bingung seakan pekewuh melihat orang-orang pihak ketiga itu, lalu anggota itu langsung pergi. Ujung-ujungnya mereka (pihak ketiga) itu minta Rp 2 juta kalau blokirnya mau dibuka. Saya nggak mau, mereka masih maksa. Akhirnya uang Rp 800.000 untuk beli susu anak saya ikhlaskan,” ujarnya kesal.

Ketua Komisi B DPRD Sragen, Hariyanto menyampaikan tidak hanya dua nasabah itu, laporan aksi arogansi DC atau pihak ketiga itu juga banyak masuk ke komisinya.

Baca Juga :  Mahasiswa UNS Wafat Diduga Setelah Ikuti Diklat di Bawah Jembatan Jurug. Otoritas Kampus dan Kepolisian Sama-Sama Tunggu Hasil Otopsi

Tercatat dalam beberapa hari terakhir, sudah ada 7 warga atau nasabah kredit yang menjadi korban dan dipaksa dimintai uang dengan modus yang sama.

Ia sangat berharap pihak terkait baik aparat maupun OJK bisa menghentikan praktik-praktik meresahkan dari leasing dan pihak ketiga seperti itu.

Selain meresahkan, juga makin menyengsarakan nasabah karena modusnya sudah bernuansa memeras.

 

“Saya rasa arogansi-arogansi ini harus segera dihentikan. Jangan sampai masyarakat yang kredit, sudah susah ekonomi, malah makin terbebani dengan kebijakan leasing menyewa pihak ketiga. Leasing yang praktik melanggar aturan harus ditindak tegas. Masyarakat juga harus jeli, leasing yang main arogan jangan dipilih,” tegasnya.

 

Langgar Aturan MA

Menyikapi kasus itu, Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Sragen periode 2015-2019, Dion Henry Wibowo menilai praktik menggandeng pihak ketiga dalam penagihan itu tidak bisa dibenarkan secara aturan.

Baca Juga :  Hujan Es Sebesar Kelereng Landa Sejumlah Wilayah di Sragen

Sebab mengacu surat edaran Mahkamah Agung (MA), jika leasing akan melakukan penarikan, cukup ke Pengadilan Negeri (PN) setempat dan ditembuskan ke pemangku wilayah seperti Polsek, Kades/lurah dan RT.

“Kalau pakai pihak ketiga itu justru leasing-nya malah wanprestasi. Dan itu sudah tidak relevan. Apalagi saat pandemi di mana sudah ada aturan dari OJK warga bisa mendapat kesempatan restrukturisasi kredit.

Bisa dalam bentuk perpanjangan waktu angsuran, atau diringankan pembiayaannya.

Ia menyarankan bagi masyarakat yang menjadi korban atau mengalami kasus seperti itu, bisa melapor ke OJK. Dengan melaporkan ke OJK ada lembaga mediator antara perusahaan pembiayaan dengan nasabah yang keberatan. Wardoyo

 

Berita ini sudah dimuat di https://joglosemarnews.com/2021/09/resah-aksi-debt-collector-makin-brutal-sejumlah-nasabah-di-sragen-rame-rame-ngadu-ke-dprd-main-ancam-ujung-ujungnya-minta-uang-jutaan/

  • Bagikan