Tindakan Debt Collector yang Kian Brutal dan Main Ancam, Resahkan Masyarakat Sragen

0809 debt collector
ilustrasi debt collector / tempo.co
  • Bagikan

SRAGEN, GROBOGAN.NEWS Aksi debt collector (DC) yang dinilai makin brutal belakangan ini di Sragen, membuat masyarakat semakin resah.

DC ini disewa oleh lembaga pembiayaan atau leasing, sehingga membuat sejumlah customer atau nasabah di Sragen mengaku resah.

Pasalnya, DC yang dikenal dengan istilah pihak ketiga itu belakangan bertindak makin brutal dan arogan terhadap nasabah.

Tak hanya menggeruduk rumah nasabah, mereka juga mengintimidasi, mengancam menarik paksa kendaraan dengan tujuan akhir meminta sejumlah uang.

Aksi meresahkan itu mencuat ketika beberapa nasabah lembaga pembiayaan kredit kendaraan bermotor mengadu ke Ketua Komisi II DPRD Sragen, Hariyanto, Selasa (7/9/2021).

Salah satu nasabah, LY (30) asal Gemolong, menuturkan terpaksa buka suara karena belum lama ini mengalami kejadian tidak mengenakkan dengan DC.

Awalnya setahun lalu, ia mengambil mobil secara kredit dari sebuah lembaga pembiayaan di Solo dengan angsuran selama lima tahun.

Baca Juga :  Puluhan Kios dan Los di Pasar Tangen Sragen Terbakar, Ini Sebabnya

Memasuki tahun kedua, keuangan usahanya agak tersendat gegara pandemi sehingga sempat nunggak angsuran dua bulan terakhir.

Masuk bulan ketiga, ketika mau membayar angsuran, ia kaget ketika virtual account atau akun pembayaran online miliknya ternyata sudah diblokir.

 

Tak lama kemudian, rumahnya justru didatangi sekelompok orang mengaku sebagai pihak ketiga yang diberi kewenangan leasing atau lembaga pembiayaan.

Ujungnya Minta Uang

Tanpa basa-basi, lima orang itu langsung menggertak hendak mengambil paksa mobil kreditannya. Sontak ia menolak karena merasa tidak punya urusan dengan DC atau pihak ketiga. Bukannya mereda, lima orang itu justru makin arogan.

Mereka mengeluarkan sumpah serapah, memaki-makinya dan menghardiknya. Sempat terjadi perdebatan, sebelum kemudian kelima orang itu akhirnya terus terang meminta uang jika ingin blokir pembayaran dibuka.

“Kejadiannya tiga minggu lalu. Ada lima orang ke rumah. Omongnya kasar sambil nunjukin surat katanya sudah diberi kewenangan leasing untuk ambil mobil. Mereka maksa sampai kami berdebat. Saya bilang saya mau bayar tapi akun diblokir. Ujung-ujungnya mereka ternyata minta uang dengan alasan untuk buka blokir,” paparnya.

Baca Juga :  Baru Capai 40 Persen, Pemkab Sukoharjo Akhirnya Genjot Vaksinasi Covid-19

Setelah itu, LY mengaku sempat datang ke kantor leasing di Solo untuk membayar tunggakannya. Bukannya dilayani, pihak leasing justru melemparnya kembali ke pihak ketiga atau DC.

Jika belum membayar uang blokir ke DC, maka account tidak akan bisa dibuka. Karena tertekan, ia pun akhirnya mengalah dan terpaksa menuruti membayar uang buka blokir ke DC.

“Awalnya minta Rp 10,5 juta. Saya nggak mau, saya nego nego jadi Rp 1,5 juta. Yang kami heran, ini kan sudah seperti pemerasan. Orang mau bayar tunggakan, bukannya dipermudah malah dibebani suruh bayar pihak ketiga dulu. Katanya kalau nggak bayar mau pelunasan pun nggak akan bisa,” jelasnya.

Baca Juga :  Pria Asal Sragen Ini Mencangkul Mobil Tetangga, Lalu Membakarnya Hingga Ludes Tinggal Kerangka. Ternyata Ini Sebabnya

Atas kondisi itu, perempuan pengusaha itu juga mengecam kebijakan leasing yang langsung melempar ke pihak ketiga tanpa ada komunikasi dulu dengan nasabah. Padahal dirinya sudah beritikad ingin segera membayar tunggakan.

Hal itu dinilai sangat bertolak belakang dengan kebijakan pemerintah yang banyak memberi kelonggaran kreditur di masa pandemi.

“Presiden dan OJK saja memberi kemudahan relaksasi dan tidak ada denda karena tahu kondisi ekonomi sedang sulit. Lha kok ini malah seakan-akan nasabah dipersulit. Pihak ketiga itu juga mestinya kan menjembatani menggiring agar nasabah mau bayar, bukan malah menekan, mengancam yang ujung-ujungnya minta uang,” ujarnya.

Ia mengaku terpaksa mengadu ke DPRD karena sudah tidak tahan dan tidak tahu lagi harus mengadu ke mana. Ia berharap kasus arogansi bernuansa pemerasan itu harus segera dihentikan.

Halaman:
1   2   Show All

  • Bagikan