GROBOGAN.NEWS Pati

Penasaran dengan Fenomena ‘Sapi Makan Sapi’ di Rembang Simak Ulasannya, Inilah Solusi yang Dilakukan Pemkab Rembang

Ilustrasi.

REMBANG, GROBOGAN.NEWS– Fenomena ‘sapi makan sapi’ di Kabupaten Rembang ketika musim kemarau, diharapkan tidak terulang setiap tahun.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang Agus Iwan Haswanto menyampaikan, bahasa “sapi makan sapi” muncul, karena saat warga kesulitan mendapatkan pakan ternak pada musim kemarau, mereka biasanya menjual sapi untuk membeli pakan.

“Berawal dari dorongan Pak Bupati kepada kita agar tidak terjadi lagi di Rembang sapi makan sapi ketika musim kemarau,“ ungkap Agus, Selasa (16/2).

Baca Juga :  Sebanyak 652 Karyawan PT Dua Kelinci Kena Virus Corona, Diduga Tertular dari Karyawan dari Kudus, Inilah Langkah yang Dilakukan Bupati Haryanto

Karenanya, lanjut Agus, untuk menghindari fenomena tersebut, petani diminta mengoptimalkan seluruh potensi pakan, agar tidak terbuang percuma pada saat stok melimpah seperti sekarang.

Dicontohkan, saat ini masa panen jagung, dan sebentar lagi puncak panen padi, pihaknya menginisiasi untuk memberikan contoh kepada petani untuk tidak membuang pakan ketika berlebih, tapi diolah dan disimpan sebagai persediaan di musim kemarau.

Dijelaskan, batang jagung misalnya, digiling dengan alat chopper, dan selanjutnya difermentasi untuk pakan sapi.

Baca Juga :  Kasus Covid-19 di Pati “Mbledos”, 11 Kecamatan Zona Merah, 151 RT Dilockdown

“Biasanya batang jagung kalau sudah mulai mengering ya dibuang. Tapi ini kita manfaatkan. Hasil penggilingan disimpan, biar pas paceklik nggak bingung,“ imbuhnya.

Agus menambahkan, sebagian peralatan chopper ini adalah produk lokal atau karya warga Kabupaten Rembang.​ Penggerak listrik memakai mesin pompa air. Harganya pun terjangkau, kisaran Rp1,5 juta untuk skala rumah tangga dengan dua hingga tiga ekor sapi.

Baca Juga :  Sebanyak 652 Karyawan PT Dua Kelinci Kena Virus Corona, Diduga Tertular dari Karyawan dari Kudus, Inilah Langkah yang Dilakukan Bupati Haryanto

Tujuan dari pemanfaatan alat tersebut, lanjutnya, pakan bisa digiling, sehingga ukurannya lebih padat dan memerlukan ruangan yang lebih kecil.

“Jadi kalau selama ini kendalanya adalah tempat penyimpanan, maka dengan cara penggilingan dulu pakai chopper, kendala itu bisa teratasi,“ terangnya.

Agus yakin, apabila semakin banyak petani menerapkan program pengolahan pakan, dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan ketergantungan pakan dari luar daerah.

Target akhirnya, mewujudjkan swasembada pakan sapi. Ichsan