GROBOGAN.NEWS Umum Nasional

HOAKS! Informasi Seputar Vaksin Covid-19 Sinovac Ini Terbukti Salah dan Tidak Perlu Dipercaya

Kontainer berisi 1,8 juta dosis vaksin Covid-19 buatan Sinovac tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkarang, Kamis (31/12/2020). Foto: YouTube/Sekretariat Presiden

GROBOGAN.NEWS Pemerintah Indonesia telah menetapkan bakal memulai tahap vaksinasi Covid-19 pekan depan, yang dimulai dari Presiden Joko Widodo dan jajaran Kabinet Indonesia Maju pada Rabu (13/1/2021).

Namun menjelang dimulainya vaksinasi, masih banyak beredar informasi salah seputar vaksin Covid-19 buatan Sinovac yang akan digunakan Indonesia.

Pemerintah telah menjamin jika vaksin Covid-19 buatan produsen asal China itu aman digunakan dan kini tengah menunggu izin penggunaan darurat (emergency use authorization) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Berikut ini sejumlah informasi terkait vaksin Sinovac yang telah dipastikan salah atau hoaks, sehingga tidak perlu dipercaya:

1. Vaksin Sinovac hanya untuk percobaan
Isu keliru soal vaksin Covid-19 buatan Sinovac hanya diperuntukkan bagi kelinci percobaan berawal dari beredarnya gambar yang memuat kemasan vaksin Sinovac dengan tulisan ‘Only for clinical trial’.

Baca Juga :  Kasus Obat Invermectin, ICW Endus Adanya Indikasi Keruk Keuntungan di Masa Pandemi Covid-19

Isu tersebut telah langsung ditepis oleh Corporate Secretary Bio Farma, Bambang Heriyanto. Dijelaskan kalau kemasan yang beredar itu adalah kemasan vaksin yang digunakan saat uji klinis.

“Kemasan vaksin Covid-19 untuk uji klinis akan berbeda dengan vaksin yang akan digunakan untuk program vaksinasi. Vaksin yang akan dipakai di program vaksinasi akan berbentuk vial single dose (botol kecil satu dosis),” ujar Bambang, Minggu (3/1/2021).

2. Vaksin Sinovac mengandung boraks
Klaim lain seputar vaksin Sinovac yakni menyebut bahwa didalam vaksin tersebut terkandung bahan pengawet seperti boraks. Ada juga yang menyebut vaksin Sinovac mengandung formalin dan zat merkuri yang berbahaya.

Informasi itu juga telah dipastikan salah oleh Bambang Heriyanto. “Vaksin ini juga tidak menggunakan pengawet dalam proses produksinya. Sehingga tidak ada itu boraks, formalin atau merkuri.”

Ia juga menegaskan vaksin yang akan diberikan pada masyarakat telah melalui tahapan pengembangan dan melewati serangkaian uji yang ketat sehingga terjamin keamanan, kualitas, dan efektivitas vaksin Covid-19 ini di bawah pengawasan BPOM dan memenuhi standar internasional.

Baca Juga :  Rencana Luhut Produksi Laptop Merah Putih Dikritik Susi Pudjiastuti. Mendingan Uangnya untuk BLT Rakyat

3. Vaksin Sinovac mengandung sel kera Afrika
Klaim selanjutnya mengenai kandungan vaksin Sinovac yang keliru yakni pernyataan yang menyebut vaksin tersebut mengandung sel vero yang berasal dari kera hijau Afrika, sehingga membuat vaksin tidak halal.

Terkait informasi tersebut, Bambang menerangkan bahwa sel vero yang berasal dari kera Afrika hanya digunakan sebagai media kultur untuk proses memperbanyak virus dan bukan menjadi bahan pembuatan vaksin secara langsung.

“Vaksin Sinovac tidak mengandung sel vero. Sel vero hanya digunakan sebagai media kultur untuk proses perbanyakan virus sebagai bahan baku vaksin. Kalau tidak ada media kultur tentu virusnya akan mati dan tidak bisa untuk bahan baku vaksin,” ujar Bambang.

Baca Juga :  Pegawai KPK yang Masih Dapat Dibina, Ternyata Emoh Ikuti Diklat Bela Negara

“Sel vero tidak akan ikut sampai proses akhir pembuatan vaksin. Jadi produk akhir vaksin tidak mengandung sel vero tersebut,” katanya menambahkan.

4. Vaksin Sinovac adalah yang terlemah untuk Covid-19
Klaim terakhir yang beredar di masyarakat yakni yang menyebut bahwa vaksin Sinovac adalah yang paling lemah dalam melawan virus corona penyebab Covid-19.

Informasi tersebut juga dipastikan salah. Juru bicara vaksinasi Covid-19 dari BPOM, Lucia Rizka Andalusia telah membantah bahwa vaksin Sinovac memiliki kualitas paling lemah di antara kandidat vaksin lainnya.

Hingga saat ini, tidak ada dokumen dan informasi resmi dari WHO yang membandingkan respons imunitas 10 kandidat vaksin, atau pernyataan bahwa vaksin Sinovac rendah. Sehingga tidak benar bahwa vaksin Covid-19 buatan Sinovac yang paling lemah.