Isu Lockdown Kota Solo dan Karantina Pemudik, Bisnis Perhotelan dan Pariwisata di Surakarta Kembali Terpuruk

solo lockdown
Isu Lockdown di kota Solo. Istimewa
  • Bagikan

Kerugian juga dialami sejumlah maskapai penerbangan. Mereka kewalahan banyak rombongan yang sudah berencana untuk terbang ke Solo tiba-tiba membatalkan. Kemudian, jadwal penerbangan pada rentang 15 Desember 2020 hingga akhir tahun juga masih minim, padahal biasanya di momen tersebut sudah hampir penuh jauh-jauh hari sebelumnya.

Seperti diungkapkan Taufiq Usman, Branch Manager Sriwijaya Air Solo. “Kalau hitung-hitungan kami 80 persen penerbangan ke sini (Solo) batal. Isu tersebut langsung berdampak. Potensi kerugian kalau dinominalkan bisa mencapai Rp 1,4 miliar dalam kurun waktu tersebut. Per hari sekitar Rp 180 juta, kalau dari tanggal 15 Desember 2020 tinggal dikalikan saja,” ungkap Taufiq Usman.

Baca Juga :  Sebanyak 45 Prajurit TNI AD Jalani Tes Urine Secara Acak untuk Ketahui Pakai Narkoba atau Tidak, Seperti ini Hasilnya

Baik Retno maupun Taufiq Usman menyatakan, sebenarnya triwulan akhir ini gairah di bidang pariwisata, MICE sudah mulai menggeliat. Acara hajatan maupun kegiatan pertemuan terbatas lainnya serta wisata mulai bergerak di Kot Solo setelah berbulan-bulan tiarap dihantam badai Covid-19. “Namun kesempatan di akhir tahun malah terganggu dengan isu tersebut,” ungkap Retno.

Karena itu mereka meminta kepada pejabat untuk lebih berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan terkait kebijakan yang akan diterapkan. “Jika belum pasti dan masih dalam proses penggodokan atau rencana sebaiknya tidak disampaikan ke publik dulu. Sehingga tidak ditasirkan macam-macam. Apalagi bisnis perhortelan dan pariwisata rentan dengan isu,” paparnya.

Baca Juga :  Hujan Es Sebesar Kelereng Landa Sejumlah Wilayah di Sragen

Mereka juga meminta agar setiap kebijakan strategis dan sensitif, Pemda bisa melibatkan stakeholder terkait untuk diajak berembug setidaknya dimintai pendapat sehingga keputusannya lebih tepat untuk semua pihak.

Di sisi lain mereka juga menyayangkan para netizen yang gampang memviralkan sesuatu yang belum jelas sehingag berdampak luas bagi masyarakat. Mereka meminta para pengelola medsos atau admin untuk tidak menyebarkan berita yang belum pasti kebenarannya.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Surakarta, Anas Syahirul di kesempatan tersebut mengakui ada problem komunikasi publik yang terjadi dalam persoalan kebijakan penanganan Covid-19 ini. Seharusnya, sebuah kebijakan harus dimatangkan terlebih dahulu sebelum disampaikan kepada masyarakat sehingga tidak multitafsir.
Ia juga mendukung dibentuknya semacam forum atau helpdesk komunikasi untuk menjembatani pemerintah daerah dengan stakeholder kota dalam bidang distribusi informasi.

Baca Juga :  Kondisi Sragen Kian Membaik, Hanya Ada Tambahan 3 Kasus Positif Covid-19. Lokasi Isolasi Sudah Kosong

“Penanganan Covid-19 ini merupakan hal baru bagi semua pihak. Termasuk dalam komunikasi publik, kasus Solo Zona hitam bisa jadi pelajaran agar tidak terus terjadi blunder komunikasi. Pelibatan stakeholder dalam sebuah forum bersama entah apa namanya menjadi penting dalam mengelola informasi kebijakan publik,” katanya. Marwantoro|ASA

Berita ini telah tayang di https://joglosemarnews.com/2020/12/isu-lockdown-kota-solo-dan-karantina-pendatang-bisnis-perhotelan-dan-pariwisata-kehilangan-miliaran-rupiah/

  • Bagikan